Zach Lavine Kecewa Usai Kings Kalah dari GSW. Zach LaVine tidak menyembunyikan rasa kecewanya setelah Sacramento Kings menelan kekalahan tipis 112-108 dari Golden State Warriors pada 10 Januari 2026 di Golden 1 Center. LaVine, yang baru bergabung dengan Kings di musim ini, tampil impresif dengan 32 poin, 7 rebound, dan 5 assist, tapi itu tidak cukup menghentikan kekalahan ketiga beruntun timnya. Pasca-laga, dia mengaku sangat frustrasi karena merasa tim gagal menutup pertandingan di momen krusial. Pernyataan LaVine langsung menjadi sorotan karena menunjukkan betapa tinggi ekspektasinya terhadap performa kolektif Kings di tengah persaingan ketat Wilayah Barat. INFO GAME
Performa Individu LaVine yang Gemilang: Zach Lavine Kecewa Usai Kings Kalah dari GSW
Zach LaVine menjadi satu-satunya pemain Kings yang benar-benar konsisten sepanjang laga. Dia mencetak 15 poin di kuarter keempat saja, termasuk tiga tembakan tiga angka berturut-turut yang sempat membuat Kings unggul 105-102 dengan sisa waktu 4 menit. LaVine juga aktif di lini pertahanan dengan dua steal dan beberapa kontes yang memaksa Warriors mengambil tembakan sulit. Namun, di menit-menit akhir, dia harus menyaksikan dua turnover krusial dari rekan setim dan beberapa tembakan bebas yang gagal dieksekusi. LaVine mengakui bahwa penampilannya pribadi terasa sia-sia karena tim tidak bisa mengamankan kemenangan meski sempat memimpin. Statistiknya malam itu menunjukkan efisiensi tinggi—11 dari 19 tembakan, termasuk 5 dari 9 three-pointer—tapi dia tetap menekankan bahwa basket adalah olahraga tim, dan kekalahan ini terasa lebih menyakitkan karena peluangnya sangat terbuka.
Kekalahan di Momen Penentu dan Masalah Tim: Zach Lavine Kecewa Usai Kings Kalah dari GSW
Kings memimpin hingga pertengahan kuarter keempat, tapi kemudian kehilangan ritme setelah beberapa kesalahan sederhana. Warriors memanfaatkan itu dengan serangkaian three-pointer dan fast break yang membuat mereka membalikkan keadaan menjadi unggul 110-106. LaVine menyebut fase akhir laga sebagai “momen yang harus kami ambil alih”, tapi tim gagal melakukannya. Dia secara terbuka mengkritik kurangnya fokus di defensive rebound dan komunikasi di pick-and-roll defense, yang memungkinkan Warriors mencetak poin mudah di paint. LaVine juga menyentil eksekusi free throw yang hanya 68 persen malam itu, angka yang menurutnya “tidak bisa diterima” di level ini. Kekalahan ini membuat Kings turun ke peringkat enam Wilayah Barat dengan rekor 22-18, semakin jauh dari zona playoff aman dan menambah tekanan pada sisa musim reguler.
Dampak pada Moral Tim dan Masa Depan LaVine
Kekecewaan LaVine terlihat jelas di ruang ganti. Dia mengaku merasa “marah pada diri sendiri dan tim” karena sudah memberikan segalanya tapi hasilnya belum sesuai harapan. Pernyataan ini langsung memicu diskusi tentang chemistry tim, terutama setelah kedatangan LaVine yang diharapkan bisa menjadi motor serangan bersama De’Aaron Fox. Banyak pengamat melihat kekecewaan ini sebagai tanda positif—artinya LaVine benar-benar peduli dan ingin menang, bukan sekadar menjalani musim biasa. Di sisi lain, kekalahan beruntun ini juga menimbulkan pertanyaan soal kestabilan skuad. Kings kini perlu segera bangkit, terutama dengan jadwal padat di minggu-minggu mendatang. Bagi LaVine, malam ini menjadi pengingat bahwa transisi ke tim baru tidak selalu mulus, tapi juga membuktikan bahwa dia siap menjadi pemimpin jika diberi kesempatan lebih besar.
Kesimpulan
Zach LaVine tampil luar biasa dengan 32 poin tapi tetap kecewa berat setelah Sacramento Kings kalah tipis dari Golden State Warriors. Kekalahan ini bukan hanya soal skor, melainkan kegagalan memanfaatkan momen krusial dan kurangnya eksekusi di akhir laga. Pernyataan jujur LaVine mencerminkan komitmen tinggi dan rasa tanggung jawabnya terhadap tim. Di tengah tren negatif tiga kekalahan beruntun, Kings butuh segera menemukan kembali ritme agar tidak semakin tertinggal di klasemen Barat. Bagi LaVine, ini adalah bagian dari proses adaptasi, tapi juga bukti bahwa dia datang untuk menang, bukan sekadar bermain. Kings punya potensi besar—pertanyaannya sekarang adalah kapan mereka bisa mengubah potensi itu menjadi kemenangan konsisten.