
Dennis Schroder Menjadi Korban Rasisme di EuroBasket. Kemenangan Timnas Basket Jerman atas Lithuania dengan skor 107-88 dalam laga fase grup FIBA EuroBasket 2025 di Tampere, Finlandia, pada 30 Agustus 2025, dirusak oleh insiden rasisme yang menimpa kapten tim, Dennis Schroder. Pemain Sacramento Kings ini menjadi sasaran ejekan rasis berupa suara monyet dari beberapa penonton saat menuju ruang ganti di babak pertama. Insiden ini memicu kemarahan Schroder dan memicu tindakan cepat dari FIBA, yang mengusir dua penonton dan melarang salah satunya menghadiri sisa turnamen. Kejadian ini mencoreng atmosfer kompetisi yang seharusnya meriah, sekaligus menambah daftar tantangan Schroder sebagai atlet kulit hitam di Eropa. MAKNA LAGU
Meski Jerman tampil dominan dan memastikan tempat di babak 16 besar di Riga, Latvia, insiden ini menjadi sorotan utama, memicu diskusi tentang rasisme dalam olahraga. Schroder, yang mencetak 26 poin tertinggi di laga tersebut, tetap menunjukkan profesionalisme meski terguncang. Artikel ini akan mengulas profil Dennis Schroder, alasan di balik insiden rasisme ini, dan tanggapannya terhadap peristiwa tersebut.
Siapa Itu Dennis Schroder
Dennis Schroder, lahir di Braunschweig, Jerman, pada 15 September 1993, adalah point guard profesional yang kini bermain untuk Sacramento Kings di NBA. Anak dari ayah Jerman dan ibu Gambia, Schroder memulai karier basketnya di klub lokal SG Braunschweig sebelum debut di NBA bersama Atlanta Hawks pada 2013 sebagai pick ke-17 draft. Sejak itu, ia telah bermain untuk sembilan tim NBA, termasuk Oklahoma City Thunder, Los Angeles Lakers, dan Brooklyn Nets, dengan rata-rata karier 13,9 poin dan 4,9 assist per laga dalam 842 pertandingan hingga musim 2024/2025. Pada Juli 2025, ia menandatangani kontrak tiga tahun senilai 44,43 juta dolar dengan Kings melalui sign-and-trade dengan Detroit Pistons.
Untuk Jerman, Schroder adalah kapten timnas dan pahlawan di FIBA World Cup 2023, di mana ia membawa tim meraih gelar juara dunia pertama dan dinobatkan sebagai MVP turnamen dengan rata-rata 17,9 poin dan 6,7 assist. Ia juga memimpin Jerman ke medali perunggu di EuroBasket 2022 dan menjadi pembawa bendera di Olimpiade Paris 2024 bersama judoka Anna-Maria Wagner. Sebagai pemilik klub Basketball Loewen Braunschweig, Schroder adalah figur besar di basket Jerman.
Kenapa Dia Bisa Menjadi Korban Rasisme di EuroBasket
Insiden rasisme terhadap Schroder terjadi saat ia berjalan menuju ruang ganti di babak pertama melawan Lithuania. Beberapa penonton, yang diduga berasal dari suporter Lithuania, membuat suara monyet, sebuah tindakan rasis yang ditujukan pada latar belakang Gambia-nya. Insiden ini memicu konfrontasi verbal di koridor arena antara pemain dan staf kedua tim, sebelum keamanan mengusir dua penonton yang diidentifikasi sebagai pelaku. FIBA kemudian menggunakan rekaman CCTV untuk mengenali satu pelaku, yang dilarang menghadiri sisa turnamen, dan menyerahkan bukti ke polisi setempat untuk penyelidikan lebih lanjut.
Schroder, yang dibesarkan di Jerman sebagai anak dari keluarga multikultural, bukan kali pertama menghadapi rasisme. Ia pernah berbagi pengalaman masa kecilnya di Braunschweig, di mana ia sering diolok-olok karena warna kulitnya. Insiden ini mencerminkan tantangan yang masih dihadapi atlet kulit hitam di Eropa, bahkan di turnamen sekelas EuroBasket, yang seharusnya menjadi ajang inklusif. Atmosfer panas laga melawan Lithuania, ditambah rivalitas antara kedua tim, mungkin memicu tindakan tidak terpuji ini, meski tidak ada pembenaran untuk perilaku rasis.
Tanggapan Dennis Schroder Atas Rasisme Ini
Schroder bereaksi dengan tegas namun terkendali terhadap insiden tersebut. Dalam wawancara pasca-pertandingan dengan media Jerman, ia menyatakan, “Membuat suara monyet, itu sesuatu yang sangat saya tidak hormati. Hinaan biasa, itu wajar, tapi rasisme tidak punya tempat di olahraga ini.” Ia mengakui atmosfer penonton yang luar biasa di Tampere, tetapi menegaskan bahwa tindakan rasis itu tidak dapat diterima. Schroder juga memuji tindakan cepat FIBA dan keamanan arena yang mengusir pelaku, meski ia tampak terguncang oleh kejadian tersebut, seperti yang disampaikan pelatih interim Jerman, Alan Ibrahimagic.
Schroder menekankan pentingnya menjaga olahraga sebagai ruang inklusif, mengingatkan bahwa rasisme adalah masalah global yang tidak boleh ditoleransi. Meski kecewa, ia tetap fokus pada kemenangan timnya, menunjukkan ketangguhan mental dengan mencetak 26 poin dan memimpin Jerman ke rekor 3-0 di Grup B. Tanggapannya mencerminkan kematangan sebagai kapten dan figur publik yang ingin mengubah narasi seputar rasisme di olahraga.
Kesimpulan: Dennis Schroder Menjadi Korban Rasisme di EuroBasket
Insiden rasisme terhadap Dennis Schroder di EuroBasket 2025 adalah pengingat pahit bahwa diskriminasi masih menghantui dunia olahraga, bahkan di level internasional. Sebagai kapten Jerman dan bintang NBA, Schroder menunjukkan kelasnya dengan tetap tampil gemilang meski menghadapi ejekan rasis, sekaligus menyuarakan penolakan tegas terhadap perilaku tersebut. Dengan 26 poin melawan Lithuania dan rekor baru di EuroBasket, ia membuktikan bahwa talenta dan profesionalismenya jauh lebih besar dari tindakan tidak terpuji beberapa individu. Tanggapan Schroder dan tindakan cepat FIBA mengirimkan pesan kuat bahwa rasisme tidak memiliki tempat di basket. Kemenangan Jerman dan ketangguhan Schroder menjadi inspirasi, tetapi kejadian ini juga menegaskan perlunya upaya berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan olahraga yang benar-benar inklusif.